60 vs lift
yep, 60..
60 anak tangga yang setiap pagi dan sore gua naikin dan gua turunin (lho..?), maksudnya paginya gua naik ke lantai 4 dengan menaiki 60 anak tangga dan sorenya menuruninya ke lantai 1 (apapun kerancuannya, yang jelas pagi naik tangga, sore turun tangga. that’s it).
Ruangan kantor tempat gua bekerja emang berada di lantai 4. Untuk mencapai kesitu gua bisa memilih antara naik lift atau maik tangga. Mungkin bagi sebagian besar orang, naik lift lebih menghemat waktu dan lebih cepat ketimbang naik tangga. Tapi itu gak berlaku di kantor gua yang gedungnya hanya memiliki 6 lantai. Siapapun dapat lebih cepat naik tangga dan juga dapat lebih cepat naik lift, tergantung situasinya.
Kembali lagi ke variabel situasi (halah, kaya mau ngitung statistik aja). Situasi yang berbeda menghasilkan output kecepatan tempuh dan lama perjalanan yang berbeda (bahasanya mulai ngawur ni). For example: orang yang kerjanya di lantai 1 jelas gak ngaruh apakah dia harus naik tangga atau naik lift. Ok, jelas…dan gua tahu kalian semua juga berpikiran yang sama. Kemudian bagaimana dengan orang yang bekerja di lantai 2, 3, 4, 5, dan 6? Nah, dengan kondisi yang berbeda inilah akan menentukan lebih cepat mana, naik tangga atau lift?
Untuk kasus di lantai 2, jelas-jelas naik tangga lebih cepat daripada naik lift. Kenapa gua bisa bilang begitu? Sebab, setiap hari selama gua bekerja disini, gak pernah sekalipun gua lihat orang yang bekerja di lantai 2 naik lift. Meskipun ada, itupun paling tamu yang sedang ada keperluan di lantai 2 (alias orang eksternal kantor), Cleaning Service (yang sedang keburu-buru membawa setumpuk kardus air mineral untuk rapat), dan sebagian besar anak PKL (SMK dan SMU, sayang ya kenapa anak kuliahan gak ada yg PKL disini…heueheu).
Alasannya, tamu biasanya gak tahu kalo ada tangga, CS keberatan membawa barang, sedangkan anak PKL karena jarang atau bahkan belum pernah naik lift (mungkin). Kemudian kenapa orang yang bekerja di lantai 2 males naik lift? Karena, satu, kalo maksain naik lift kudu tengak-tengok dulu diantara kedua sisi dinding. Dimana setiap sisi dinding terdapat dua pintu lift yang hubungan keduanya bersifat paralel. Dan ketika kita memencet tombol naik di salah satu dari empat pintu lift, maka bersiap-siaplah menebak pintu mana yang akan terbuka duluan di antara empat pintu tersebut. Jelas memakan waktu bukan buat yang memilih naik tangga untuk hanya menuju lantai 2. Kalo gak percaya silahkan coba sendiri.
Untuk lantai 3 juga berlaku teori yang sama dengan lantai 2. Akan tetapi hal ini bisa menghasilkan kecepatan yang berbeda antara naik tangga dengan naik lift. Ada dua kemungkinan kenapa naik tangga bisa lebih cepat daripada naik lift. Yang pertama karena naik lift butuh waktu menebak pintu lift mana yang terbuka duluan sebagaimana telah dijabarkan pada kasus lantai 2 diatas. Kemudian juga, jika ada anak PKL, CS, maupun tamu (sebagaimana disebutkan dalam kasus lantai 2) yang ikut naik lift bersama kita. Jelas menambah waktu tempuh ke lantai 3 karena harus berhenti dulu di lantai 2. Dan naik tangga lebih cepat sekali lagi karena tidak ada halangan. Tetapi ada kalanya juga naik lift lebih cepat menuju lantai 3 dengan satu kondisi dimana tanpa dipencet pun pintu lift terbuak sendiri tanpa harus menunggu karena ada orang dari lantai di atasnya yang turun ke lantai 1. Terlebih lagi jika naik lift sendirian dan langsung memencet tombol lantai meskipun ada orang yang melambai dari luar pintu lift yang ingin ikut naik ke atas.
Untuk lantai 4 hingga lantai 6 berlaku fifty-fifty, bisa lebih cepat naik tangga, dan juga bisa lebih cepat naik lift. Tentunya ini tergantung kondisi dan variabel yang sudah disebutkan tadi. Jelas jika ingin menuju lantai 4, ada kemungkinan bahwa di lantai 2 dan 3 pintu lift akan membuka, entah itu karena ada orang yang ingin menuju lantai tersebut, ataupun ada orang dari lantai 2 dan 3 yang ingin menuju lantai di atasnya yang ingin bareng dengan lift yang kita naiki. Begitupun dengan lantai 5 dan 6, hal yang sama berlaku di kedua lantai tersebut.
Tapi adakalanya naik tangga bisa lebih cepat menuju lantai 4, 5, dan 6. Yaitu pada saat di lantai 1 cukup banyak orang yang ingin naik lift dan sedang menunggu pintu lift mana yang terbuka duluan. Juga ketika kita merasa kurang olahraga selama ini, sehingga memutuskan untuk naik tangga sambil berlari kecil. Hitung-hitung mengeluarkan keringat yang sering karena bekerja di ruangan ber-AC menghambat keluarnya keringat di tubuh kita. Seperti yang gua mulai dari minggu ini. Mulai Senin kemarin gua sengaja memilih tangga ketimbang lift. Selain alasan buat gerak dan olahraga, juga menurut gua lebih cepat. Terlebih lagi ketika jam pulang kerja. Menuruni tangga lebih cepat daripada menuruni lift (turun dengan naik lift maksudnya…err…pokoknya turun ke bawah tapi pake lift..gitu). Sebab ketika jam pulang kerja, lift dipaksa untuk memilih akan membuka di lantai mana dan memutuskan untuk menjemput penumpang di lantai atasnya atau di lantai bawahnya. tergantung kecepatan tangan penumpang di setiap lantai dalam memencet tombol naik-turun. Juga kecepatan antrian absen finger print, ada yang jarinya terdeteksi atau tidak. Saat ini lift berada dalam kondisi yang crowd, dan seringkali karena bingungnya lift menentukan mau membuka di lantai mana,para penumpang terkecoh dalam menebak pintu lift yang akan terbuka. Kalo sudah begini jalan keluarnya adalah menuruni tangga. Jauh lebih cepat dan jauh lebih mudah. Sebab kita tidak naik, melainkan turun. Keuntungannya kita tetap dapat berolahraga juga menghemat tenaga ketimbang menunggu lift. Sisi baiknya juga kita bisa bertemu dengan pegawai lain yang bekerja di bawah lantai kita. Menambah silaturrahim mungkin, itupun kalau berani dan sempat bertegur sapa (yah..siapa tahu kan ketemu yang jomblo..halah..). Kalo sedang tidak beruntung yah paling ketemu satpam atau petugas cleaning service..hehehe..
Buat gua kan lumayan tuh sehari 120 anak tangga…seminggu 5×120=600 anak tangga. dan dengan 600 anak tangga itu bisa mengurangi beban listrik yang dikonsumsi lift buat naik-turun. coba bayangkan jika orang satu gedung di tempat gua (6 lantai) semua naik turun tangga, tentunya biaya listrik buat lift bisa dihemat lagi. hehehe.. maaf ah kalo ngawur, cuma berandai-andai aja, lagian rata2 pekerja di ruangan tertutup itu kan jarang bergerak. dan itu bisa berakibat buruk bagi kesehatan dalam jangka waktu tertentu. Keberadaan lift tetep gak bisa dihilangkan. Tangga pun sama pentingnya. Intinya seimbang aja antara naik tangga dengan naik lift. Semakin sehat…semakin hemat…
NB: Gak berlaku jika diterapkan di gedung yang berlantai banyak ya..hehehe




