Asuransi via kartu kredit via telepon – pagi ini…
Zaman sekarang ini, semua serba mahal. Mulai dari harga kebutuhan pokok yang terus membubung naik hampir setiap pekannya. Hingga biaya kesehatan yang juga ikut-ikutan naik. Dan akhirnya, buat sebagian orang yang berpenghasilan pas-pasan harus rela tidak mampu merasakan perawatan kesehatan yang memadai di rumah sakit karena biayanya yang sudah tidak terjangkau lagi. Kalau sudah begitu, bukan hanya badan yang sakit, kantong pun ikut-ikutan sakit. Biasanya untuk menanggulangi masalah kesehatan ini, sebagian orang mulai aktif ikut dalam asuransi kesehatan.
Seperti pagi ini, ketika saya dihubungi oleh Customer Service yang menawarkan produk Asuransi kesehatan dengan kemudahan dalam hal pembayaran melalui pendebetan otomatis dari kartu kredit saya dan dengan promosi premi yang terjangkau. Si petugas CS atau lebih baiknya kita sebut saja telemarketer karena dia memasarkan produknya lewat telepon. Seperti telemarketer lainnya, pada awalnya dia menanyakan saran dan kesan saya sebagai pemegang kartu kredit. Apakah ada hal yang perlu ditingkatkan dalam hal pelayanan. Dan jujur saya bilang saya hanya mengeluhkan masalah pengiriman lembar tagihan yang kadang lambat diterima. Juga karena saya sebenarnya mengangkat teleponnya karena saya kira dari Bank tempat saya mengajukan kredit pinjaman yang ingin mengkonfirmasi persetujuan. Yah, pada intinya saya hanya curious dan berjaga-jaga jika telepon itu penting (makanya saya angkat).
Menit demi menit berlalu, dan si telemarketer masih mengajukan penawaran kepada saya yang intinya ingin saya segera menyetujui penawaran tersebut saat itu juga. Sebab ketika saya mencoba menolak dengan halus dengan memberi alasan ingin membicarakan hal ini terlebih dahulu dengan isteri saya (emang sudah ada?) dan berjanji akan menghubunginya kembali jika saya membutuhkan, dia menyatakan bahwa ini cuma satu-satunya kesempatan karena saya merupakan nasabah terpilih (hu hu hu…). Juga dengan mencoba memberitahukan kelebihan-kelebihan asuransi ini, diantaranya premi yang rendah, yaitu Rp 86.000,- per bulannya. Menurut penjelasan, dengan premi sejumlah itu saya akan mendapatkan klaim sebesar Rp 500.000,- untuk biaya rawat inap jika terjadi kecelakaan ataupun hal lain yang mengganggu kesehatan saya. Serta uang pertannggungan kepada ahli waris sebesar Rp 300.000.000,- jika terjadi hal yang buruk (baca: meninggal dunia) pada saya. Dan tidak hanya itu, selain itu ada juga biaya rawat jalan tapi saya lupa besarannya.
Dengan gigihnya mas telemarketer terus membujuk saya, dan saya juga dengan gigihnya berusaha menolak dengan halus karena saat ini saya pikir saya belum begitu membutuhkan sekali. Apalagi sebelum ini, saya sudah ikut program asuransi sejenis yang mempunyai unsur investasi. Lagipula, saya agak kurang yakin jika persetujuan polis tanpa bertemu langsung. Bagi saya masih kurang afdol dan kurang sreg, apalagi ini hal ini menyangkut kehidupan saya beberapa tahun kedepan. Tentu saya harus berhati-hati. Meskipun dalam hati kecil saya, saya sempat tergoda juga, tapi saya harus tegas. Lagipula, jika saya membutuhkan asuransi, biasanya saya akan mencari referensi terlebih dahulu baik itu dari internet, media cetak, maupun referensi lain. Dan ketika mas telemarketer terus berpidato, diam-diam saya mencoba googling. Dan halaman teratas merujuk ke sini. Ternyata saya bukan orang pertama yang ditawarkan penawaran asuransi via kartu kredit ini. hehehe…
Dan dengan penuh ketegasan meski kasihan juga sama mas telemarketer ini sudah bicara panjang lebar selama lebih kurang 20 menit, akhirnya saya beranikan bilang tidak. Dan ternyata dalam jangka waktu beberapa detik setelah saya mengatakan penolakan saya, telepon langsung ditutup dengan cepat.
Ternyata telemarketing itu pada awalnya sopan dan terkesan menghormati yang ditelepon, tapi ketika penawaran yang diajukan ditolak, kesan sopan itu langsung hilang. yah, maklum saja mungkin sebal karena sudah ngoceh sekian menit berbusa-busa tapi hasilnya ditolak. Well. siapa yang salah ya?




